Kami Harus Membeli Darah
Catatan Harian
Ketika kami menginap dalam sebuah ruangan yang penuh dengan orang pesakitan, meminta-minta kesembuhan pada seorang ahli medis untuk memberikan rangsangan untuk sebuah kesembuhan dalam keminiman sel darah merah akibat sebuah fenomena yang kami sebut sangat mengerikan. Kami harus berjuang untuk bertahan hidup diambang kematian sembari menunggu mukjizat dari Tuhan lewat perantara ahli medis di Rumah Sakit.
Darah adalah kebutuhan utama tubuh untuk menjalankan segala fungsi organ vital yang ada di dalamnya. ialah segala motor penggerak untuk tetap berfungsinya organ vital tubuh secara baik. jika darah dalam tubuh kami tiada, apa yang terjadi, hanyalah rasa nikmat yang tak dapat kami rasakana kembali, momentum itu adalah sebuah kematian untuk jasad duniawi.
Di sekeliling kita terdapat sebuah perkumpulan ahli-ahli kesehatan yang bergerak di bidang pengumpulan dan pendistribusian darah dari pendonor kepada recipient. mereka yang bekerja siang-malam, kesana kemari menghampiri dan mendatangi manusia yang rela berbagi darah dan rela menerima sekantong darah. tak ada reward bagi pemberi, namun, ada Biaya Pengganti untuk penerima (recipient), yang lebih dikenal oleh Biaya Pengganti Pengolahan Darah.
Apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga ketika manusia ingin memberikan darah tak dapat penghargaan yang berharga, namun ketika pengelola darah yang mendistribusikan darah dari pemberi sukarela meminta sebuah penghargaan yang harus diberikan kepadanya. alanngkah lebih kejamnya semua itu di tetapkan dalam sebuah Peraturan atau Surat Keputusan. sehingga munculah persepsi publik yang menjerit dalam hatinya mencemooh bahwa "darah diperjual belikan".
Dalam Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 2011 tentang Pelayanan Darah terdapat sebuah pasal yang mengatur bahwasanya "segala kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan darah didanai oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah"
lantas, kenapa masih muncul sebuah SK Gubernur Jawa Timur No. 41 Tahun 2014 tentang Biaya Pengganti Pengolahan Darah, yang mana dalam pasal 6 terdapat sebuah penetapan harga maksimal untuk sekantong darah sebesar Rp. 360.000,-. hal ini jelas bertentangan dengan UU No. 7 Tahun 2011 tentang Pelayanan Darah dan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Entah apa yang diinginkan pemerintah atas fenomena ini, kami masyarakat bawah yang dipinggir jurang peradaban modern menghujam segala kebijakan penuh aroma ketimpangan yang bertentangan dengan asas keadilan. semoga kebijakan tersebut dapat direview kembali untuk kami dan keadilan Negeri ini.
Budi Santoza, Bangkalan (30, Desember 2015)
kupu-kupu Pergi
puisi
Kupu-kupu terhampar peluk hangat bunga mawar
Simpan rasa dendam dalam kecupan samar
Kadang meradang dalam cengkeraman raksasa lapar
Dan beringsut jatuh dipeluk hangat syahwat
Simpan rasa dendam dalam kecupan samar
Kadang meradang dalam cengkeraman raksasa lapar
Dan beringsut jatuh dipeluk hangat syahwat
Samar cahaya menembus gelapnya kamar
Duhai lelaki kapan hantamanmu berhenti
Aku lelah, cukup malam itu kita bertepi
Saling rasa pasrah dalam sambutan birahi
Duhai lelaki kapan hantamanmu berhenti
Aku lelah, cukup malam itu kita bertepi
Saling rasa pasrah dalam sambutan birahi
Kerasnya derita cinta masa itu
Menantang senyum ramah budaya ayu
Namun keindahan tak memihakku
Menikam tajam alam penuh kepuasan golongan
Menantang senyum ramah budaya ayu
Namun keindahan tak memihakku
Menikam tajam alam penuh kepuasan golongan
Lelah sudah raga selalu berjaga
Menanti hempasan kasar lelaki berada
Aku ciut mendengar gonggongan neraka
Keras panas mencabuli hati yang teracuni
Menanti hempasan kasar lelaki berada
Aku ciut mendengar gonggongan neraka
Keras panas mencabuli hati yang teracuni
WDK (warung depan kampus)
Sore Ratapan Mama
puisi Sastra
Lentera hidup menyengat hidup pribumi tua. Mengais nafkah penuh peluh perjuangan derita. Walau diri tak kunjung sejahtera. Harap anak tercinta meraihnya.
Aku yang tua meratap kejamnya dunia. Memaki diri yang lemah tak punya kuasa. Sebab itu keterampilan yang ada.
Ahh, Sungguh sialan manusia disekelilingku. Menikamku dalam kepentingan nafsunya. Makna yang baik, kau putar dalam kegelapan. Dan munculah anjing-anjing kuat memakan hak pribumi suci.
Warung Depan Kampus
"Gelisahnya Pribumi"
puisi Sastra
Ketika pikiran tak menjernihkan sebuah harapan. Ketika makna sebuah keseriusan tak dapat dipahami dalam konsepsi diri pribumi. Ketika komunikasi yang mulai tersingkirkan dalam hubungan antar individu yang berikatan. Maka, kecenderungan egolah yang berkuasa.
Cipta aksara hadir dalam tragedi mimpi kita. Meradang dikala bencana, tertawa disaat terlena. Secuil petaka enyahkan pesona rasa yang tumpah diatas kegelisahan. Entah sampai kapan kita akan bersama.
Deretan klausa mengadu menjadi satu haru berbau. Kegilaan itu hanyalah gincu untuk bibirmu yang layu. Harap kau tahu, diri pribumi hanyalah milikmu. Mengarang berbagai fakta acuhkan segala prasangka.
Halte D Villa
Aku Punya Keterbatasan
Sastra
Rasna berjalan diam penuh awas datar pada tubuhnya. Melangkah dengan tanda tanya mengapa aku tersiksa pada kehidupan dunia. Berkawan teman searoma dan bijaksana pada sisa belas kasihannya. Tak satupun kawan lama senang pada keterbatasanya, karena hanya akan menyusahkan belaka. Dalam diam, sesekali Rasna mengumpat pada kenyataan kesusahan yang dialaminya. Sungguh keparat manusia-manusia yang tak mau bercengkrama dengannya dengan alasan keterbatasan fisik saja.
Rasna adalah mahasiswi (PTN) yang mempuunyai keterbatasan fisik tubuhnya. Teman-temanya memanggil Rasna mini. Sedari kecil keterbatasan tubuhnya diterima dengan seksama oleh orang tua yang membesarkan namun hanya itu yang dia bisa. Hingga jiwa dewasa dan menjadi mahasiswi untuk menegemis belas kasihan untuk merubah kehidupan terus mencela. Keinginan berbahagia tanpa ada rasa tercela yang hinggap selalu bersama rusaknya moral manusia.
Zenni adalah salah satu teman studinya yang sedikit menaruh belas kasihannya padaku selalu bertepuk tangan saat menuntun tangan setiap tanjakan jalan yang sulit kutapaki. Mengangkatku dengan setengah hati, karena selalu kupinta setiap waktu saat masuk ruang kuliah yang sulit kugapai dengan kaki miniku. Mungkin, dia juga jengkel aku hanya menyusahkan , tak bisa mandiri unuk menjajahi kehidupan yang penuh celaan ini.
Panas teriknya mentari menyengat lapisan kulit luar yang kumiliki, “sialan, begitu teganya aku diperlakukan seperti ini” umpat mulut kecilnya. Tak ada temankah yang perduli untuk melindungi agar kulit yang amat disayanginya ini. Zenni tak mungkin melindungiku, sialan dengannya, punya apa perempuan kere itu untuk melindungiku. Mungkin hanya sekedar mempunyai sebuah payung, itu tak mampu diperbuatnya. Tak ada harta berlebih untuk bersenag-senang atau sekedar beramal untuk sesama. Ahh, jangankan untuk itu, untuk makan saja dia harus membanting mangkok piring dalam kobokan . Ditambah umpatan dari pemilik warung bakso saat mangko piring yang dicucinya masih ada lengketan tersisa daging bakso. Apalagi jika pecah satu, tak henti-henti mulut garangnya melumpuhkan pikiran bersihnya, hingga gila setengah arca.
Sesekali duduk dalam keletihan berjalan sejauh 300 meter dari terminal menuju kekampus. Tak sanggung menyewa tukang becak dalam keterbatasan harta yang dia punya, sungguh nestapa mereka yang kaya tanpa ada intuisi membagikan sebagian hartanya padaku yang kere ini. Kurang rasa kah mereka?, tak berakalkah?, rusakkah kemanusiaan mereka ? keparat sungguh isi manusia disekelilingku ini.
Kuliah yang baru ditempuh enam semester ini terasa lelah untuk ia jalani. Sempat merasa bunuh diri untuk mengakhiri dunia manusia penuh cela ini, namun Tuhan tak menghendaki. Akankah dirinya harus pertahankan hidupnya beriringan dengan manusia bertipe aphatis.
Mahasiswa sedikit intuisi merajai pertemanan yang tertonjolkan. Rasa sosial yang harusnya berlaku saat melihat kenyataan yang ada merusak segalanya. Aroma kepentingan adalah ujung pangkal dalam tujuannya. Segala nilai-nilai moral kemanusiaan dikesampingkan dalam bayangan kelam. Etika mahasiswa hilang lenyap seakan tak ada dan tak ingin diakuinya. Peraturan yang ada dijalankan saat menguntungkan pihaknya. Berkoar kebajikan sosial kemanusiaan, menipu saat menjalankan.
Mahasiswa Aphatis dan Hegemonis mulai terbudaya subur dalam anggukan kepentingan sepihak. Tak perduli yang terjadi, asal segala tuntutan akademik semata bisa terpenuhi. Itu adalah prestasi yang harus dijalani. Tak perduli apa yang menyimpang , asal semuanya bisa dilobi-lobi untuk mencapai situasi.
Mahasiswa Aphatis dan Hegemonis mulai terbudaya subur dalam anggukan kepentingan sepihak. Tak perduli yang terjadi, asal segala tuntutan akademik semata bisa terpenuhi. Itu adalah prestasi yang harus dijalani. Tak perduli apa yang menyimpang , asal semuanya bisa dilobi-lobi untuk mencapai situasi.
Taktik ini itu dibumbui dalam setiap kondisi, sebuah Dinasti bertumbuh kuat dan berdigdaya dengan kekuatan penopangnya. Penguasaan wilayah tak pelak terjadi disetiap divisi. Membentuk kekuatan koloni dalam menghancurkan lawan yang congak menurutnya. Atas nama kebenaran segala rekayasa hitam terbangun dikalangan mahasiswa tinggi. Hingga akhirnya dendam iri hati antar dinasti tercium aromanya untuk dikaji oposisi.
Aku mahasiswa yang dalam keterbatasan fisik tak bisa berbuat kebajikan untuk bersama. Aku kere, tak berguna, tak berharta, hanya menadah sampah penguasa dan melahapnya dalam keterpaksaan. Menangis dan mengadu pada ibu pertiwi yang bisa kujalani.
(Santoza, Bangkalan, 12 Mei 2015)

