Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

kupu-kupu Pergi

Kupu-kupu terhampar peluk hangat bunga mawar
Simpan rasa dendam dalam kecupan samar
Kadang meradang dalam cengkeraman raksasa lapar
Dan beringsut jatuh dipeluk hangat syahwat

Samar cahaya menembus gelapnya kamar
Duhai lelaki kapan hantamanmu berhenti
Aku lelah, cukup malam itu kita bertepi
Saling rasa pasrah dalam sambutan birahi

Kerasnya derita cinta masa itu
Menantang senyum ramah budaya ayu
Namun keindahan tak memihakku
Menikam tajam alam penuh kepuasan golongan

Lelah sudah raga selalu berjaga
Menanti hempasan kasar lelaki berada
Aku ciut mendengar gonggongan neraka
Keras panas mencabuli hati yang teracuni

WDK (warung depan kampus)




Sore Ratapan Mama

Sore Ratapan Mama

Lentera hidup menyengat hidup pribumi tua. Mengais nafkah penuh peluh perjuangan derita. Walau diri tak kunjung sejahtera. Harap anak tercinta meraihnya.

Aku yang tua meratap kejamnya dunia. Memaki diri yang lemah tak punya kuasa. Sebab itu keterampilan yang ada.

Ahh, Sungguh sialan manusia disekelilingku. Menikamku dalam kepentingan nafsunya. Makna yang baik, kau putar dalam kegelapan. Dan munculah anjing-anjing kuat memakan hak pribumi suci.

Warung Depan Kampus 
 "Gelisahnya Pribumi"

"Gelisahnya Pribumi"

Ketika pikiran tak menjernihkan sebuah harapan. Ketika makna sebuah keseriusan tak dapat dipahami dalam konsepsi diri pribumi. Ketika komunikasi yang mulai tersingkirkan dalam hubungan antar individu yang berikatan. Maka, kecenderungan egolah yang berkuasa.

Cipta aksara hadir dalam tragedi mimpi kita. Meradang dikala bencana, tertawa disaat terlena. Secuil petaka enyahkan pesona rasa yang tumpah diatas kegelisahan. Entah sampai kapan kita akan bersama.

Deretan klausa mengadu menjadi satu haru berbau. Kegilaan itu hanyalah gincu untuk bibirmu yang layu. Harap kau tahu, diri pribumi hanyalah milikmu. Mengarang berbagai fakta acuhkan segala prasangka.

Halte D Villa
Bidadari Abstrak

Bidadari Abstrak

Duduk, aku duduk sendiri
Terkapar dalam ujung bersandarkan dinding
Terpegang ujung gabus dengan asap menari
Disore yang tak panas lagi

Hujan melapisi hawa dalam kamarku
Teringat kamu, aku menulis isi hatiku
Berbalut pena mengucurkan senjatanya
Terpaut suasana penuh cerita

Hadirmu kini kurasakan begitu mesra
Canggungmu hilang, canggungkupun datang
Entah harus bagaimana aku membalasnya
Dalam harap kuingin kau bahagia selamanya

Aku tertawa bahagia dalam derita maya
Kau tampak cintaiku apa adanya
Walau aku tak mengerti arti cinta sesungguhnya
Pelan-pelan kau mengajariku mengartikanya

(Santoza, Bangkalan, 15 Mei 2015)
Pagi Untuk Menari

Pagi Untuk Menari


Ditempat sunyi
Terpojok dengan secarik kertas
Berurai air mata diatas warta berita

Sorot lampu tajam meliukkan bola mata
Aku bergeming diantara suara bergeming

Alunan inspirasi merajut asa dalam goresan aksara
Melaju keras dalam kumpulan katalog
Terpandang seolah raja segalanya
Bersembunyi bunyi dibalik pesona dewa
(Santoza, Wonogiri, 15 Februari 2015)