Lentera hidup menyengat hidup pribumi tua. Mengais nafkah penuh peluh perjuangan derita. Walau diri tak kunjung sejahtera. Harap anak tercinta meraihnya.
Aku yang tua meratap kejamnya dunia. Memaki diri yang lemah tak punya kuasa. Sebab itu keterampilan yang ada.
Ahh, Sungguh sialan manusia disekelilingku. Menikamku dalam kepentingan nafsunya. Makna yang baik, kau putar dalam kegelapan. Dan munculah anjing-anjing kuat memakan hak pribumi suci.
Warung Depan Kampus