Aku Punya Keterbatasan

Rasna berjalan diam penuh awas datar pada tubuhnya. Melangkah dengan tanda tanya mengapa aku tersiksa pada kehidupan dunia. Berkawan teman searoma dan bijaksana pada sisa belas kasihannya. Tak satupun kawan lama senang pada keterbatasanya, karena hanya akan menyusahkan belaka. Dalam diam, sesekali Rasna mengumpat pada kenyataan kesusahan yang dialaminya. Sungguh keparat manusia-manusia yang tak mau bercengkrama dengannya dengan alasan keterbatasan fisik saja.
Rasna adalah mahasiswi (PTN) yang mempuunyai keterbatasan fisik tubuhnya. Teman-temanya memanggil Rasna mini. Sedari kecil keterbatasan tubuhnya diterima dengan seksama oleh orang tua yang membesarkan namun hanya itu yang dia bisa. Hingga jiwa dewasa dan menjadi mahasiswi untuk menegemis belas kasihan untuk merubah kehidupan terus mencela. Keinginan berbahagia tanpa ada rasa tercela yang hinggap selalu bersama rusaknya moral manusia.
Zenni adalah salah satu teman studinya yang sedikit menaruh belas kasihannya padaku selalu bertepuk tangan saat menuntun tangan setiap tanjakan jalan yang sulit kutapaki. Mengangkatku dengan setengah hati, karena selalu kupinta setiap waktu saat masuk ruang kuliah yang sulit kugapai dengan kaki miniku. Mungkin, dia juga jengkel aku hanya menyusahkan , tak bisa mandiri unuk menjajahi kehidupan yang penuh celaan ini.

Panas teriknya mentari menyengat lapisan kulit luar yang kumiliki, “sialan, begitu teganya aku diperlakukan seperti ini” umpat mulut kecilnya. Tak ada temankah yang perduli untuk melindungi agar kulit yang amat disayanginya ini. Zenni tak mungkin melindungiku, sialan dengannya, punya apa perempuan kere itu untuk melindungiku. Mungkin hanya sekedar mempunyai sebuah payung, itu tak mampu diperbuatnya. Tak ada harta berlebih untuk bersenag-senang atau sekedar beramal untuk sesama. Ahh, jangankan untuk itu, untuk makan saja dia harus membanting mangkok piring dalam kobokan . Ditambah umpatan dari pemilik warung bakso saat mangko piring yang dicucinya masih ada lengketan tersisa daging bakso. Apalagi jika pecah satu, tak henti-henti mulut garangnya melumpuhkan pikiran bersihnya, hingga gila setengah arca.

Sesekali duduk dalam keletihan berjalan sejauh 300 meter dari terminal menuju kekampus. Tak sanggung menyewa tukang becak dalam keterbatasan harta yang dia punya, sungguh nestapa mereka yang kaya tanpa ada intuisi membagikan sebagian hartanya padaku yang kere ini. Kurang rasa kah mereka?, tak berakalkah?, rusakkah kemanusiaan mereka ? keparat sungguh isi manusia disekelilingku ini.

Kuliah yang baru ditempuh enam semester ini terasa lelah untuk ia jalani. Sempat merasa bunuh diri untuk mengakhiri dunia manusia penuh cela ini, namun Tuhan tak menghendaki. Akankah dirinya harus pertahankan hidupnya beriringan dengan manusia bertipe aphatis.

Mahasiswa sedikit intuisi merajai pertemanan yang tertonjolkan. Rasa sosial yang harusnya berlaku saat melihat kenyataan yang ada merusak segalanya. Aroma kepentingan adalah ujung pangkal dalam tujuannya. Segala nilai-nilai moral kemanusiaan dikesampingkan dalam bayangan kelam. Etika mahasiswa hilang lenyap seakan tak ada dan tak ingin diakuinya. Peraturan yang ada dijalankan saat menguntungkan pihaknya. Berkoar kebajikan sosial kemanusiaan, menipu saat menjalankan.
Mahasiswa Aphatis dan Hegemonis mulai terbudaya subur dalam anggukan kepentingan sepihak. Tak perduli yang terjadi, asal segala tuntutan akademik semata bisa terpenuhi. Itu adalah prestasi yang harus dijalani. Tak perduli apa yang menyimpang , asal semuanya bisa dilobi-lobi untuk mencapai situasi.

Taktik ini itu dibumbui dalam setiap kondisi, sebuah Dinasti bertumbuh kuat dan berdigdaya dengan kekuatan penopangnya. Penguasaan wilayah tak pelak terjadi disetiap divisi. Membentuk kekuatan koloni dalam menghancurkan lawan yang congak menurutnya. Atas nama kebenaran segala rekayasa hitam terbangun dikalangan mahasiswa tinggi. Hingga akhirnya dendam iri hati antar dinasti tercium aromanya untuk dikaji oposisi.

Aku mahasiswa yang dalam keterbatasan fisik tak bisa berbuat kebajikan untuk bersama. Aku kere, tak berguna, tak berharta, hanya menadah sampah penguasa dan melahapnya dalam keterpaksaan. Menangis dan mengadu pada ibu pertiwi yang bisa kujalani.

(Santoza, Bangkalan, 12 Mei 2015)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »