Orang pinggiran berlalu lalang dalam keangkuhan. Pepatah yang pas untuk mereka para penganut aliran Individualisme. Tak melek mata hatinya, acuh dengan segala realita, lupa akan kodratnya sebagai masyarakat sosial. kalau aku sih cuekk., bagaimana dengan mereka yang tak paham situasi kehidupan penuh cercaan dan pembunuh pikiran. Apakah yang tahu membiarkan badut-badut bertingkah penuh rasa tak bersalah dilucuti analisis kritisnya satu persatu untuk kemakmuran sendiri? Menangislah Ibu Pertiwiku selagi kau bisa,, keturunanmu tak sedang dalam kemakmuran bergemulai dengan senyum tawanya, tengoklah kepenjuru Jawa Timur ini, betapa tega manusia beraliran adat keraton menelantarkan manusia-manusia kecil lugu di alam penuh ketimpangan yang tak transparan.
Orang pinggiran tak mungkin bisa
sederajat dengan menteri, lupakan itu. Apalagi mau hidup sendiri, tak mungkin
itu, kamu akan celaka, hee orang pinggiran. Apalah arti teman jika suka melihat kesengsaraan yang
berketimpangan, ta ubahnya binatang
jalang mengangkang bebas diatas orang-orang tertindas. Sebagai manusia
sederhana, kau sangat pantas untuk makan apotas, agar kau bebas, bebas untuk
tak bernafas.
Sekian kali menyakinkan hanya berbuah kata-kata
manis beraroma amis. Semoga lekas kau coba lepas dan mengembara dengan dengan
muka kontras, selaras dengan panji-panji sikopat ganas. (santoza).