Maafkan Maria

Lupakan rehat sejenak peluh kesah membasahi fikiran dan prasangka berat diakhir minggu ini. Aku inshaf, sudah waktunya memikirkan masa depanku dan keluargaku. Tiga saudaraku sudah mendahuluiku mengejar mimpi-mimpi mereka yang terkekang oleh ketimpangan sosial yang terjadi pada Negeri Maritim katanya. Tak satupun saudaraku menyentuh bangku kuliah, hingga nasib dan takdir menjadikan mereka pedagang asongan yang tak jelas akan kehidupan masa depannya, apakah bisa hidup dimasa depan, apakah bisa makan disaat ketimpangan sosial merajalela hingga pelosok desa, apakah hanya pasrah menunggu mati yang mulai menggerogoti sejak kami tersenyum dan menangis di Pelosok Nusantara. Semua mata dengan sorot tajam menatapku penuh iba, berpengharap dan meminta seakan aku Tuhanya. Senyum sayu kuberikan pada tiga saudaraku seakan mengiyakan apa yang menjadi harapan besar mereka. Aku hanya memaklumi, karena pandangan mereka yang salah pada kejamnya dunia ini.
            Wajar bila hal itu terjadi, mulai minggu depan aku mengembara ketanah rantau untuk mengemban status baruku sebagai seorang “Mahasiswa” PTN Negeri di Jawa Timur. Diera modern ini sudah bukan hal yang baru jika banyak remaja-remaja diusiaku bisa berkuliah sampai menyandang gelar sarjana, bahkan lebih dari itu.  Tapi tidak bagi keluargaku, dengan latar belakang pekerjaan sebagai buruh disawah ibu kami harus banting tulang mencarikan suapan makan menyambung umur demi umur yang mulai berkurang diakhir tahunya. Hanya bersawahlah yang dia tahu untuk mengerjakanya, entah apa sebabnya ibu kami tak bisa bersekolah lulus sekolah dasar.
Tak ubahnya dengan ibu yang lain, ibu kami sangatlah sayang dan adil dalam memberikan apa yang dipunya. Kesenangan, kesedihan, keharuan, kecemasan dan kesengsaraan selalu diberikanya secara adil pada kami layaknya Hakim dalam memutuskan perkara dipengadilan. Hanya pada ibu aku mengadu kecewaku, tak ada sosok ayah disampingku hanya satu bingkai kenangan foto ayah kami yang tersisa. 12 tahun sudah dia telah tiada sirna dalam kehidupan nyata bersama kami sebab penyakit jantunng Koroner yang menggeroti disendi penjuru tubuhnya. Ya, dua belas tahun aku masih terngiang kenangan terakhir saat banyak orang mengangkat tubuhnya dengan tandu ketempat tidur tenangnya.
Kardus, tas, karung beras dan bumbu empon-empon untuk keperluan masak sop sayur kesukaanku sudah menunggu kupanggul habitat baruku. Tampak berkaca-kaca sinar mata ibu yang nampak tak rela melepas kepergian anak terakhirnya untuk berdaya upaya merubah segala kesenjangan rasa. Keinginanku berkuliah karena ambisiku semata, ibu yang sering sakit-sakitan memintaku untuk selalu menjaga disetiap aktifitasnya. Maklum, ibu sudah tua dan tak kuat lagi untuk bekerja diladang persawahan. Tapi tak kugubris segala belas iba ibu, aku harus berkuliah agar kelak bisa merubah kondisi keluarga.
“Berangkat dulu mak, do’akan Maria bisa menjadi mahasiswa terbaik dikampusku”. Pamitku
“Iya nak, emak selalu berdo’a untukmu dan saudara-saudaramu selalu dimudahkan disetiap kegiatannya”. Do’anya penuh harap
“Maafkan emak, tak bisa memberimu bekal yang banyak, hanya itu sisa harta yang emak punya”.  Tambahnya penuh iba
“Sudahlah mak, Maria sudah besar tak usah merisaukanku lagi, aku bisa mencukupi sendiri kebutuhanku”. Jawabku menyakinkan ibu.
“Iya nak”. Jawabnya pelan tak bisa berkata-kata lagi dengan berkaca-kaca meneteskan air mata sedihnya.
“Maria akan sering menelfon emak disana untuk menanyakan kabar emak”. Jawabku lirih sambil memeluk tubuh renta ibuku yang mulai rapuh dimakan usia.
Pagi ini aku diantar oleh mas Rusman, dia adalah pemuda desa yang baik budi nan berbakti pada keluarga. Kami berdua sangatlah sering bersama saat suka maupun duka, terlebih lagi saat keluarga kami mebutuhkan bantuan, Mas Rusman selalu ada dsetiap waktu dan bersedia membantu kami. Mas Rusman merupakan kerabat dekat keluargaku. Orang tuanya sudah meninggalkanya sejak masih kecil. Neneknya emaklah yang mengasuhnya sejak orang tuanya telah wafat.
Diantarkanlah aku dengan motor butut Mas Rusman ke sebrang jalan raya sambil menunggu bis yang biasa mengangkut orang ke Kota Surabaya.
“Hati-hati dik Maria, jaga diri baik-baik”. Tutur Mas Rusman berpetuah.
“Iya mas, Maria akan menurut petuah emak dan Mas Rusman”. Jawabku patuh.
“Kuharap kau lekas lulus dan bisa bekerja membantu  ekonomi keluargamu, dik”. Kata Mas Rusman penuh harap.
“Iya mas” jawabku patuh.
“Mas tolong jagain emak ya, aku harap emak akan baik-baik saja saat aku tinggalkan”. Tambahku penuh iba.
“Tenanglah Maria, tak usah kau pinta Mas sudah pasti menjaga emakmu, suatu saat emakmu menjadi emakku juga kan”. Tandas nya menyakinkan.
Selang beberapa menit Bus tujuan Trenggalek-Surabaya  berhenti dipemberhentian liar depan kami berbincang.
“Mas, aku berangkat dulu ke Surabaya, jaga diri mas baik-baik. Aku akan selalu merindukan Mas Rusman”. Kataku penuh haru.
“ Iya dik, sering-sering kasih kabar ya”. Tandasnya nampak berat melepaskanku.
“ Iya, Assalamualikum mas”.  Kataku berpamit sambil masuk kedalam bis.
“ Waalikumsalam dik”. Jawabnya terdengar sayup-sayup suara pelanya.
Sekilas kulihat wajah terakhir Mas Rusman yang mulai pudar menjauh dariku.

*****

Sampailah tujuan akhirku pada rumah keduaku selain di Trenggalek. Lebih baik kondisinya, beralaskan keramik bersih, beratapkan beton dan berkasur busa. Sebuah fasilitas yang jarang kutemui dirumah deritaku. kontrakan yang hanya berjarak 100 meter dari Kampus tempatku menimba ilmu. Kutata kamar kecil berukuran 4x 3 meter yang kusewa dari pemilik kos seharga 200 rb/bln ini akan menjadi pelindung dari panasnya siang bercampur debu liar dan dinginnya malam bersama embun nakal. Tak lupa kupasang foto keluarga peninggalan bapak satu-satunya. kuharap akan bisa bertemu lagi kelak diwaktunya.
            Kurebahkan tubuh yang mulai lunglai tak bertenaga melawan beartnya beban yang kupikul atas harta sisa emak yang diberikanya padaku. Tak sabar menanti teman-teman baruku yang pasti akan beraneka ragam sifat dan perilaku mereka. Jurusan yang kuambil adalah Ekonomi Syariah, Merupakan penjurusan yang mempelajari sistem perekonomian terbaru yang berbasis syariah/ syariat islam dan  sudah mulai dikembangkan, Yang katanya untuk  mengatasi permasalahan ketimpangan sosial ekonomi di Nusanatara.


         Adaptasi Kehidupan Sosial yang Berbeda
Banyak kutemui keanehan dengan perilaku Amoral yang dilakukan kebanyakan mahasiswa. Entah saat dilingkungan kampus ataupun diluar, Bingung bercampur takut tak berarah. Perilaku dan sifat-sifat seorang manusia yang timbul akibat penyimpangan akan nilai-nilai luhur budaya dan agama seakan menjadi hal yang biasa. “Inilah surganya kaum muda nikmati saja”. Kalimat yang serig terucap dibelahan manusia beriltelektual.
Bodohnya diriku yang tak bisa bergaul dengan kemajuan jaman hingga aku menjadi tempat ledekan bahagia binatang jalanan. Melihat kenyataan masih adanya Kartini yang hidup dijaman modern ini. Menulis dengan segala penyimpangan yang nyata adalah perilaku kartini lama. Seperti hal nya diriku yang selalu menulis segala penyimpangan sosial norma dan budaya dalam sebuah buku catatan harian yang tertuang sejak pertama kali menginjakan kaki diperantauan. Hanya menulis dan merneung yang kubisa, tak lebih dan tak mungkin bisa lebih. Aku selalu disingkirkan dalam tatanan petemanan, karena tulisan yang kubuat mengandung unsur penjustice an pada mereka yang merasa penyimpang norma budaya.
Waktu berjalan, Semester bertambah tua, tak terasa aku sudah menempuh 6 semester. Banyak suka dan duka dikala aku bertambah dewasa. Bersenag ria ketika sebentar lagi aku bisa mengajukan skripsi dan wisuda, Seketika berubah raut muka penuh masalah karena acapkali dapat kabar dari Mas Rusman bahwa emak didesa sering jatuh sakit akibat kelelahan bekerja dipersawahan. Acapkali mengigau meneyebut namaku berpuluh kali disaat tidur sakitnya.
 “Ya Allah jagalah emaku, sembuhkan jika ia sakit, hilangkan dari fitnah orang berkepentingan, dan perpanjanglah umurnya agar kita selalu bersama nantinya”. Do’a yang selalu kupintakan saat sujud wajib dan sunahku dengan penuh tangis penuh harapan.
Banyak orang sinis terhadap karyaku. Cemooh, hujatan, ancaman, dan perilaku yang merugikan sudah menjadi hal yang harus kulahap kedalam jiwa Gentara ini. Aku berubah menjadi seorang mahasiswi yang sudah melenceng dari penjurusan awal masuk Perguruan Tinggi. Aku menjadi garang dengan segala goresan pena yang kuberitakan disetiap sudut-sudut ruang informasi online maupun cetak, warung-warung kopi penuh dengan diskusi terhadap karya berita Investigasi. Membuat jiwa-jiwa tenang mulai terancam kedamaian permainan yang sudah dikuasai Dinasti pejabat kampus bertahun-tahun silam. Lirikan tajam bak serigala bulan purnama mulai mengusik kebebasanku dalam mengekspresikan segala fakta penyimpangan anggaran dalam pembangunan sarana dan prasarana kampus. Utusan dari pihak-pihak yang dicurigai mulai bergerilya saat fajar menyingsing dan saat rembulan menyusup dibalik awan. Negosiasi diantara kami berjalan dengan lancar berujung penolakan dariku. Ancaman drop out  dan pembunuhan acapkali datang diselang malam berganti pagi. Suasana tak karuan mulai membumbui disegala gerak gerikku. Dimulai penolakan pelayanan dibidang akademik bahkan adminstrasi untuk pengajuan skripsi disertai bisikan-bisikan halus mempengaruhi haluan Idealisme yang kupegang teguh selama ini.
“Tak apalah, ada waktunya untuk mengakhiri semua ini”. Gumamku dalam renungan hati.
“Hey kau”. Gertak seseorang. Terkaget saat lamunan belum memuncak pada ending nya, plonga-plongo berlagak seperti orang bodoh. Akupun sudah akrab akan suara besar berserak itu. Yah, pejabat Rektorium yang membidangi anggaran dan keuangan yang kuwawancarai beberapa minggu sebelum berita itu diterbitkan.
“Ada apa pak, ada yang bisa saya bantu”. Sahutku santai dengan senyum kecut kuberikan
“Sudahkah anda mengerti apa yang akan terjadi jika anda tak mengklarifikasi pemberitaan anda”. Gelegarnya dengan nafas amarah
“Saya kira sudah pak, kami selalu memberitakan sesuai dengan fakta realita bukan fakta rekayasa”. Jawabmu menantang
“Apa anda merasa tersinggung dengan pemberitaan kami, apakah sepakat jika anda berada didalam pemberitaan kami”. tambahku lebih menantang memasang muka berang
“Apakah selamanya oknum dalam penyimpangan hidup dalam kedamaian gemerlap harta kaum sengsara, apakah iya, hahhh??. Gertakku memuncak penuh dendam.
Tampaknya pejabat Rektorium tersebut mulai gugup karena gertakanku mengundang daya tarik orang sekitar untuk menyaksikan kejadian yang sudah terlewat beberapa menit lalu. Tanpa memberikan balasan ocehan sedikitpun dengan nafas besar penuh amarah dan muka mulai memerah bergegas ia menghilang secepatnya sebelum terlihat oleh mahasiswa yang lain. Sudah sering hal ini kualami, karena diriku adalah seorang aktivis sekaligus Reporter Media Cetak Lokal. Aku bergabung saat semester tiga dengan modal hobby menulisku dipoles oleh ilmu Dasar Jurnalistik mengantarkanku menduduki jabatan sebagai Pimred dengan status mahasiswa aktif semester 6 akhir. Kampus tempatku menggapai harapanpun tak luput kami beritakan segala penyimpangan yang telah dibuatnya, dengan daya upaya segala penyimpanganyan dan oknum-oknum yang bertanggung jawab didalamnya menghilang didunia penuh murka.

*****

Getar bunyi Smartphone berdering nyaring mengusik istirahatku tepat pukul 00.45 wib. Nampak kontak nama Mas Rusman memanggil dalam telephoneku.
“ Hallo, assalmualaikum”. Sahutku malas.
“ Hallo maria”!!!. Tanya Mas Rusman dengan suara kacau nafas tak beraturan layaknya habis lari ketakutan di hutan.
“Hallo maria, kamu dimana”. Tambahnya kebingungan
“Mas Rusman kenapa, ada apa mas, yang jelas mas”. Tanyaku serius.
“Emak Maria”. Jawab Mas Rusman
“Kenapa Emak Mas, Emak sakit lagi, kenapa mas”. Tanyaku mulai kebingungan berkeringat saat Mas Rusman menyebut nama emak
“Emak sekarang masuk Rumah Sakit diruang ICU, dia terjatuh dikamar mandi, sampai sekarang belum sadarkan diri”. Sahutnya memperjelas nampak masih kacau suaranya.
“Astaugfirulllahaladzim, Emak “. Tak bisa kubertanya lagi, mata yang selalu melotot terlihat menyipit mengeluarkan sebuah air mata tanda tangisan ratapan pada sosok yang kupuja dan kusayangi. Tak ada tenaga untuk berbuat sesuatu, aku lemah, lemah tak seperti yang kurasakan selama ini. Kurebahkan tubuh tak bertenaga ini dengan kasur busa yang menemani setiap tidur malamku. Takku hiraukan lagi kicauan Mas Rusman dalam Telephone, meski ia berteriak sanga-sangat kencang aku tak berbuat angkat bicara. Seperti hanya ada bayang kosong disekeliling kamarku, semua sebab emakku yang sakit tak sadarkan diri karena kelalaian dan takdirnya.
Dalam heningnya rumah sakit yang penuh orang mengharap kesembuhan dari sebuah derita badan. Berpuluh-puluh jasmani tergeletak lemas menunggu gerak tangkas Dokter dan Asistennya. Hal yang sama kurasakan pada emak yang masih terkulai lemas mengharap kesembuhan secepatnya. Rasa gelisah, gemetar, mengacau bagai gemuruh petir saat penghujan menerpa dalam kerisauan hati. Tak sanggup kutahankan deru deras air mata menetes membasahi telapak tangan mungilku.
Dokter dan Juru Rawat masuk memeriksa keadaan emak yang lemah terkulai. Tak terlihat reaksi yang sangat darinya, hanya hembusan nafas yang sangat kencang. Terlihat dokter mengeluarkan sebuah cairan dibalut dalam alat suntik yang dia tuangkan dalam pembuluh darah emak, seketika nafasnya berangsur-angsur menurun. Sesekali dokter mengecek tekanan darah dan menngganti infus yang mulai habis. Terlihat wajah yang tak wajar dari Dokter yang mulai mengemasi peralatan pemeriksaanya.
“ Bagaimana, keadaan emak saya dok”. Tanyaku harap cemas.
“ Tunggu ja, pemeriksaan selanjutnya”. Sahutnya
“Emak saya bisa sembuh kan dok, emak saya masih sehat kan dok”. Tanyaku penuh kekacauan beiringan air mata
“Dia terlalu banyak mengeluarkan darah dari kepala, berdo’a sajalah akan kesembuhanya”. Jawabnya putus asa.  Bergegas dia meninggalkan ruangan dengan juru rawatnya.
Tak ada hal yang kuharap lagi dari seorang dokter yang berputus asa karena tak tahu cara membuat emak bisa sadar dan tersenyum kembali. Tak kuingini dia kembali merawat emak yang merupakan sosok simbol perdamaian manusia dialam Bumiputera. Aku muak dalam kerisauan tangis hati. “Emak, cepatlah sadar, jika emak tak ada, Maria tak bisa berteman lagi padamu”. Gumamku, gemetar tubuhku tak bisa menghilang.
Kurebahkan tubuhku bersebelahan terbaringnya emak. Tanganya mulai retak termakan usia. Wajahnya kuratap penuh pilu, kenangan berat berkenang mengembang dalam lamunan tak berarti. Hebatnya cobaan dari kuasa membuatku harus bisa memendam semua rasa yang bergelora, ketiga kakak laki-lakiku tak kuberi tahu akan musibah ini, tak kuingin merepotkan mereka, dan tak mungkin mereka tahu keadaan yang terjadi, yahh, semua kakak laki-lakku menderita cacat mental, mereka tak bisa berakal sehat sejak umur 19 tahun. Terlalu beratnya dalam menanggung beban hidup ini membuatnya tak berpikiran normal lagi. Mereka dipasung dipawon (dapur) yang sudah tak terpakai, Semenjak tingkah-lakunya meresahkan masyarakat yang mulai takut akan keonaranya jika diwaktu kumat (kambuh). Tak jelas sebab-akibat yang dijelaskan padaku, Emak hanya mengatakan mereka berhilang akal karena sering bermain-main dengan alam ghaib untuk mendapatkan sesuatu yang  menjadi pengharapan mereka. Takdir yang tak adil bagiku dan emakku. “oh Tuhan”. Keluhku berisak tangis.
Setiap sujud siang dan malamku, tak ada pengharapan yang kuinginkan selain kesembuhan dari celaka yang menghampiri emak. Tak sanggupku mencibir dalam bait do’a yang kupanjatkan pada keagungan Tuhanku. Sudah empat hari emak terbaring tak sadarkan diri dalam penderitaanya, begitu halnya diriku yang mulai resah akan keadaan yang kualami. Pada hari keempat itu jua, aku mendapatkan sebuah surat dari institusi resmi Perguruan Tinggiku yang banyak kuporak-porandakan sebagian kecil penyimpangan sosialnya dalam bentuk Investigasi Berita. Aku bangga, kolegakupun mendukung, mahasiswa antusias tapi sayang pejabat kampus nampaknya mulai mengeluarkan taring tikus. berang mungkin, bengis bisa, resah tentu, marah pasti. Karena kemarahanya itulah aku diberi sebuah apresiasi tak bisa melanjutkan kuliahku atau istilah akademiknya Droup Out. Selang beberapa saat aku mendapatkan sebuah kabar pembredelan/ pencabutan izin salah satu media cetak dari seorang Pimred (pimpinan redaksi) tak lain dan tak salah itu adalah media cetak yang selama ini kujadikan sebagai sandaran dalam menyalurkan fungsi Social Control dalam Pilar Demokrasi. Pupuslah segala cita-citaku yang merupakan pengharapan terbesar emak. Aku merupakan tumpuan keluarga serta pengharapan bisa merubah segala keadaan yang tak adil, namun itu tak nyata.
Kini aku harus berjuang melawan arus hidup yang berketimpangan tanpa kontrol ini. Aku menggantikan emak merawat ketiga saudaraku agar bisa melanjutkan sisa kehidupan mereka dengan bekerja sebagai penjual sembako dipasar Baru Trengggalek. Emak telah tiada, setelah satu minggu berbaring di ICU tepat pukul 20.00 wib dia menhembuskan nafas terkhirnya tanpa memberikan sepatah wasiat apapun padaku. Emak dimakamkan bersebelahan dengan makam almarhum bapak.

Setelah usiaku genap 24 tahun, aku menikah dengan Mas Romi yang bekerja sebagai Guru honorer Sekolah Menengah Atas Negeri di Trenggalek. Kami tetap tinggal dirumah peninggalan emak yang masih belum banyak direnovasi. Setahun pernikahan kami dikaruniai seorang putera yang kuharap esok bisa menyelesaikan penyimpangan sosial masyarakat Bumiputera ini. (Santoza)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »