Kecil, manis , nyambungan, pekerja keras, semangat, tak pernah
mengeluh, selalu tersenyum dan endel. Itu adalah sekilas deskripsi tentang Biografi
seseorang yang selalu ku kagumi dan selalu mengisi, membayangi, memenuhi dan
mengotori pikiranku hingga membuatku takbisa berfikir jernih lagi.
Sebut saja namanya “PAIJO” dia adalah mahasiswi di Universitas
ujung timur pulau jawa. Dahulu ketika pertama kenal dengan perempuan tersebut
diriku sudah mempunyai felling’s bahwa dia mempunyai sifat yang menarik
untuk diteliti dan diterapkan pada diriku jika aku mampu. Sebelum menaruh hati
padanya, aku sudah dekat dengan kedua temanya, tetapi meskipun selalu ada,
dekat, bareng dan akarab tak ada perasaan apapun pada mereka (sebut saja
PAINEM dan PAINEMWATI) mungkin karena
faktor sifat-sifat dan karakter yang aku
cari selama ini tak kutemukan pada mereka sekalipun banyak teman-temanku ber
suu’dzon padaku jika mereka mempunyai hubungan denganku.
Selama ini PAIJO tidak pernah menunjukan tanda-tanda bahwa dia mempunyai suatu hubungan yang serius dengan seseorang bahkan dia menyatakan sendiri “ aku saiki lagi jomblo kog” kata PAIJO dengan medok jawanya. tapi sempat kali kulihat dia deket dengan seseorang yang tak kukenal tapi akhirnya tak kudengar kelanjutan akan kedekatan tersebut. Mungkin dirinya terlalu mencari yang pefeck hingga semua laki-laki yang dia dekati merasa tidak sanggup untuk memenuhi akan obsesinya dia. Sepintas kudengar dari temanya bahwa ayahandanya telah tiada dan sekarang ia hanya tinggal bersama dengan ibu nya, sedih kiranya ketika kudengar akan hal tersebut, tapi apalah daya dan upaya manusia bahwa kita semua juga akan mengalami akan hal tersebut. Satu hal lagi yang membuatku trenyuh bercampur pilu ketika dia selalu merindukan, membicarakan ibu nya yang sendiri disana dan selalu membual akan membahagiakan ibu nya dengan kerja keras ketika telah lulus menyandang predikat Sarjana Muda.
Sebenarnya aku sudah pernah menyatakan “cinta” ketika pagi hari diperjalanan saat menumpang sebuh kapal feri pengangkut manusia-manusia intelek menuju pulau besi. Ku awali merangkai kata dengan memasukan unsur gombalan maut sedikit nakal yang sekiranya bisa membuat hatinya luluh trenyuh. Sempat membuat dirinya tak percaya terhadap hal yang paling bodoh dan konyol yang kulakukan ini yang nggak tahu diri, tak merasa, memahami, mengerti, menerka dan memposisikan diriku bahwa aku bukanlah sipa-siapa yang tak memiliki apa-apa dan tak mengerti bagaimana cara mencintai, menjaga, dan membahagiakan dia. Tapi apalah daya sudah beberapa kali diriku mengirim pesan cinta kepadanya, ingin rasanya jika waktu bisa kuulang kembali akan kutarik dan kubuang pesan cinta tersebut tak kan pernah kuberitahukan kepada dirinya. Biarlah perasaan yang menggelora ini akan kusimpan dalam-dalam dan kubentengi dengan karet baja meskipun sesekali berontak ingin keluar lagi karena provokasi yang kuat dari perasaan cinta, sebab hati tak terima ketika dia menolak pesan cintaku. Hati sakit memang itu yang kualami ketika dia menyampaikan jawaban dupliknya kepadaku, tapi kucoba untuk menggiring hati ini untuk bahagia diatas sebuah tangisan hati ketika semuanya menghancurkan mimpi, semangat, ambisi, keinginan, angan-angan kelabu bahkan niatku untuk mencintai, menyayangi, menjaganya , membahagiakan, membuatnya tersenyum mekipun dunia ini terlalu kejam dan menjadikan dirinya yang terakhir kalinyapun telah pudar hilang tak tau kemana arah sirnanya. ketika aku harus dihadapkan pada kenyataan tapi aku sadar bahwa ini permulaan yang belum apa-apa, butuh waktu mengawali, meproses, dan memfilter untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Aku sadar bahwasanya mencintai seseorang tak harus memiliki, mengaguminya, membantu dan membuatnya tersenyum termasuk bagian mencintainya.
Sebut saja namanya “PAIJO” dia adalah mahasiswi di Universitas
ujung timur pulau jawa. Dahulu ketika pertama kenal dengan perempuan tersebut
diriku sudah mempunyai felling’s bahwa dia mempunyai sifat yang menarik
untuk diteliti dan diterapkan pada diriku jika aku mampu. Sebelum menaruh hati
padanya, aku sudah dekat dengan kedua temanya, tetapi meskipun selalu ada,
dekat, bareng dan akarab tak ada perasaan apapun pada mereka (sebut saja
PAINEM dan PAINEMWATI) mungkin karena
faktor sifat-sifat dan karakter yang aku
cari selama ini tak kutemukan pada mereka sekalipun banyak teman-temanku ber
suu’dzon padaku jika mereka mempunyai hubungan denganku.Selama ini PAIJO tidak pernah menunjukan tanda-tanda bahwa dia mempunyai suatu hubungan yang serius dengan seseorang bahkan dia menyatakan sendiri “ aku saiki lagi jomblo kog” kata PAIJO dengan medok jawanya. tapi sempat kali kulihat dia deket dengan seseorang yang tak kukenal tapi akhirnya tak kudengar kelanjutan akan kedekatan tersebut. Mungkin dirinya terlalu mencari yang pefeck hingga semua laki-laki yang dia dekati merasa tidak sanggup untuk memenuhi akan obsesinya dia. Sepintas kudengar dari temanya bahwa ayahandanya telah tiada dan sekarang ia hanya tinggal bersama dengan ibu nya, sedih kiranya ketika kudengar akan hal tersebut, tapi apalah daya dan upaya manusia bahwa kita semua juga akan mengalami akan hal tersebut. Satu hal lagi yang membuatku trenyuh bercampur pilu ketika dia selalu merindukan, membicarakan ibu nya yang sendiri disana dan selalu membual akan membahagiakan ibu nya dengan kerja keras ketika telah lulus menyandang predikat Sarjana Muda.
Sebenarnya aku sudah pernah menyatakan “cinta” ketika pagi hari diperjalanan saat menumpang sebuh kapal feri pengangkut manusia-manusia intelek menuju pulau besi. Ku awali merangkai kata dengan memasukan unsur gombalan maut sedikit nakal yang sekiranya bisa membuat hatinya luluh trenyuh. Sempat membuat dirinya tak percaya terhadap hal yang paling bodoh dan konyol yang kulakukan ini yang nggak tahu diri, tak merasa, memahami, mengerti, menerka dan memposisikan diriku bahwa aku bukanlah sipa-siapa yang tak memiliki apa-apa dan tak mengerti bagaimana cara mencintai, menjaga, dan membahagiakan dia. Tapi apalah daya sudah beberapa kali diriku mengirim pesan cinta kepadanya, ingin rasanya jika waktu bisa kuulang kembali akan kutarik dan kubuang pesan cinta tersebut tak kan pernah kuberitahukan kepada dirinya. Biarlah perasaan yang menggelora ini akan kusimpan dalam-dalam dan kubentengi dengan karet baja meskipun sesekali berontak ingin keluar lagi karena provokasi yang kuat dari perasaan cinta, sebab hati tak terima ketika dia menolak pesan cintaku. Hati sakit memang itu yang kualami ketika dia menyampaikan jawaban dupliknya kepadaku, tapi kucoba untuk menggiring hati ini untuk bahagia diatas sebuah tangisan hati ketika semuanya menghancurkan mimpi, semangat, ambisi, keinginan, angan-angan kelabu bahkan niatku untuk mencintai, menyayangi, menjaganya , membahagiakan, membuatnya tersenyum mekipun dunia ini terlalu kejam dan menjadikan dirinya yang terakhir kalinyapun telah pudar hilang tak tau kemana arah sirnanya. ketika aku harus dihadapkan pada kenyataan tapi aku sadar bahwa ini permulaan yang belum apa-apa, butuh waktu mengawali, meproses, dan memfilter untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Aku sadar bahwasanya mencintai seseorang tak harus memiliki, mengaguminya, membantu dan membuatnya tersenyum termasuk bagian mencintainya.