Kualitas Pendidikan Menurun

Pendidikan bisa dijadikan acuan suatu bangsa dalam kemajuan Negara. Maju-mundurnya suatu bangsa, bergantung pada rata-rata pendidikan masyarakatnya. Latar belakang pendidikan juga dijadikan tolak ukur dimasyarakat sebagai golongan terhormat atau menghormati. Di Indonesia secara luas masih dikategorikan pada capaian tingkat pendidikan yang rendah. Kurangnya masyarakat yang berpendidikan tinggi menjadikan pribuminya yang mudah dibodohi, dipropaganda, bahkan dibuat bingung tak karuan akibat kurangnya ilmu pengetahuan.

 Mereka juga dinilai kurang akan minat membaca, padahal ada pepatah yang sering dilontarkan pada manusia yang menempuh pendidikan dasar (SD) “ Membaca adalah jendela dunia “. Tapi tidak menutup kemungkinan orang yang berlatar belakang pendidikan tinggi tidak mempunyai keilmuan yang sesuai gelarnya. Hanya sekedar mengejar eksistensi agar dihormati. Itulah yang kusebut sebagai penurunan tingkat kualitas pendidikan.

Hal ini disinyalir akibat terlena akan kemajuan tekhnologi yang semakin membuat manusia malas dan cenderung berleha-leha di zona nyaman. Aphatis terhadap keilmuan dan fenomena politik, ekonomi, dan sosial budaya penyebab utama tak berkemajuannya negara kita. Tunas muda yang seharusnya menggantikan orang tua tak bisa mengemban tugasnya. Hingga tunas muda menjadi hama yang buas bagi orang tua.

Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga pendidik yang kurang mumpuni atau belum cakapnya mereka (Aphatis keilmuan) alhasil hanya pengetahuan ala kadar yang diajarkan, bahkan lebih parah dalam prakteknya.” Kalau gurunya saja ala kadarnya, bagaimana dengan muridnya”?.

Pendidikan tingkat diani internal maupun eksternal dari keluarga, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi hanyalah eksistensi belaka. Mungkin penguasa memang bertujuan mencetak tunas muda seperti ini, agar kelak mereka mudah diatur (diajak ngalor-ngidul). Tak jelas penyebabnya, kesadaran berbenah diri sangatlah penting. Agar kelak tunas muda bisa berjaya dan menggantikan orang tua yang kurang kepedulianya untuk Bangsa.


(Santoza, Bangkalan. 2015)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »