Tulisan
ini telah lama kurangkai saat manisnya jiwa bersanding dengan jiwa alami.
Kau pendiam, pemalu namun berkemauan
yang ambigu. Seusai hari suram penuh lelah berlalu, kau hadir dalam kicauanku
yang tersurat ataupun tersirat. Dan itu adalah hal yang alami bagiku, tak ada
skenario atau konspirasi mengibuli hati. Andai matahari terbit dari barat
kaulah penerangku, andai bulog tak jual gula lagi kaulah Pemanis Kopi Pahitku.
Sekejap terlihatbiasa, celoteh lama
kumulai dapatkan rasa. Kau buat diriku dalam lamunan malam tanpa bintang,
terkadang, samar-samar suara lentera bergema dalam jiwa yang terselimuti
asmara. Masalah yang ada datangkan lupa, terusap bening oleh senyuman manis
tiada tara.
Aku tak tahu harus menulis apa,
sebab kau datang hilangkan derita yang lama. Aku tak tahu jika kau tak
disampingku, mungkin hati ini beku tak jelas akan pudar dengan cara apa. Lusuh
jiwa ini yang terbebani pikiran ambisi, mencuri kata dalam setiap pembenaran.
Tersadar akan begitu pentingnya kehadiranmu dalam hidupku.
Aku berharap untuk dirimu nanti,
terkadang kita harus saling memahami untuk melangsungkan segala tujuan yang
kita tancapkan kuat dalam tatanan prinsip hidup kita masing-masing. Karena pada
hakikatnya hidup kita tak akan lama. Kita hanya bicara, menangis disetiap
kesendirian, menghirup kebebasan, menjalankan setiap aturan hingga akhirnya
kita pergi ke alam yang penuh pertanggung jawaban.salah-benar tetap kita
lakukan agar kelangsungan cara hidup kita tetap terjaga. Meski begitu,
moralitas agama adalah yang utama.
Sikap manusia yang bersahaja adalah
saling percaya pada setiap peristiwa, meski begitu, mata awas tajam harus
berkelana untuk menjaga. Selalu ciptakan rasa damai dalam hati kita. Menyesalah
ketika ketika meminta maaf. Aku adalah pribumi biasa, tak akan bisa lebih dari
itu, karena pribumi tak menghendaki. Aku cinta pada kita yang saling percaya.
Universitas
WDK, 1 April 2015
Abde Negara