Setiap orang pasti punya kenangan terindah dengan lawan
jenis yang dikasihinya. Entah yang tua,dewasa, remaja, bahkan anak-anak bau
kencur alias kecut, sudah menjalin hubungan yang memasukan partikel-parttikel
terkecil dari rasa cinta. Cinta itu bagaikan Alam Semesta yang selalu menemani
kita, siang-malam, panas-hujan, susah-senang selalu ada dan bersama-sama untuk
menjalaninya.
Cinta seperti kayaknya pernah kualami, walaupun
ujung-ujungnya pada bubar tanpa kepastian hati. Tapi hubungan masa kencurku
sebeenarnya belum berakhir hal itu juga dibenarkan oleh Mantanku yang hilang
entah kemana. Sebab orang tuanya, dia tega menelantarkan cinta kasihnya padaku.
Aku terlanjur gila, dan gila karena menjalin cinta dengannya. Alhasil, saking
gilanya diriku, tak bisa kuhenyahkan bibir merah tipis miliknya sehingga
berlarut-larut bertahun-tahun lamanya. Dasar wanita istimewa, semua yang
menempel ditubuhnya, adalah pemikat utama desakan nakalnya. Kau terlalu
sempurna, sungguh eman untuk menduaimu.
Wajahmu bah Arumni Bachsin, kuning langsat kulitmu, bibir
tipis merah merona yang belum kuberi kecupan mautku sama sekali (entah sekarang
sudah dikecup berapa mulut, sekiranya belum, byar aku saja, harapku..). rambut
keriting layak sakhira pirang menyela, tubuhmu padat penuh berisi dan pas layaknya
wanita Eropa. Senyum ramah penuh rona sayu selalu menghampiri bibir merahmu,
dan kau juga sederhana, dan mengerti arti sederhana itu apa.
Aku yang lugu selalu kau pancing untuk bercumbu. Sebab aku
tak tahu bahasa tubuh sintalmu, dan aku tak tau saat kau mulai bernafsu. Aku hanyalah
manusia pribumi yang patuh akan adat dan ajaran budayaku dulu. Aku hanya takut
cintamu padaku, akan kau taburi dengan cambukan nafsu (ahh, spertinya itu
nikmat). Sebab pesan Emak-Bokapku
perbuatan itu akan menghancurkan masa depanmu. Maafkan aku, kita tak pernah
bercumbu saat kau dan aku menjalin cinta penuh hasrat rasa, karena aku patuh
orang tuaku.
Cerita lama, kenangan terindah yang masih jelas ada dalam
tumpukan data dipikiran kotorku adalah selayang cerita kemesraan kita saat di
kota istana, Yogyakarta. Kau dan aku saling berbalut kata-kata untuk saling
mendekatkan hati, agar kelak kita menyatu dalam satu baris keluargamu dan
keluargaku.
Namun, semua kenangan terindah (menurutku) harus berakhir yang
tak dirayakan dengan keinginan (aku masih belum mencumbu bibir merahnya). Kita berpisah,
sebab tuntutan jaman yang berketimpangan dan intimidasi harapan orang tua yang
celaka. Sangatlah terharu ketika kuingat kenangan bersejarah masa remaja klasik
dan kurasai itu selamanya.
Tak ada cara untuk melupakanya, bertahun-tahun sudah aku
terpisah olehnya, kucoba mencari penggantinya namun celakanya hanya kubuat
menyalurkan nafsu belaka. Berulang kali menjalin cinta dengan perempuan beda
budaya, bertaruh harapan hingga berguling dalam benturan kulit bulu yang
menggerakan serangkaian partikel-partikel hingga sejuta zat cair mengalir dalam
kerasnya gerak bercumbu. Tak pernah ada yang bisa mencairkan kegilaan yang
berlarut-larut ini.
Sempat kudengar hembusan kabar samar dari ocehan teman lama
bahwadia telah menikah muda, dan itu sempat dilontarkanya padaku saat kami
masih bersama. Tak apalah, kuterima takdir ini, tapi sayang seribu nafsu, tak
pernah kutemui paras cantiknya dalam penglihatanku. Sepertinya dia sengaja
menhindar dariku, entah apa alasanya tak pernah dia ungkapkan padaku. Memang dasar
kerasnya hatiku, pernah hati ingin menemuinya, bila benar kabar yang kuterima
akan kucoba membujuknya untuk berlari sejauh-jauhnya dari peradaban manusia,
entah kehutan asmara atau pulau cinta untuk melanjutkan segala cinta penuh
nafsu yang tertunda. Ini adalah ide buruk, tapi ingin sekali aku mewujudkanya.
Sampai kapanpun, hati ini kurang bisa untuk melupakan atu
bahkan melenyapkan namanya dalam memori cinta bernafsu. Senyum nakalnya, sorot
tajam mata sayunya, bibir merah tipis merona selalu memberikan gambaran dalam
lamunan imajinasi burukku.kuharap dia menyadari bahwa ada hati yang besar
sedang menanti untuk dijamahi dan kita akan bercumbu dalam balutan halusnya
getaran nafsu. (santoza).