Ketika berbincang, bertatap, bercanda, tertawa dengan kawan
sama asal,adat, keturunan, bahkan nasib, tak ubahnya bercengkrama mesra dengan
keluarga. Pemikiran yang sama membuat hati yang lama tak tertawa jadi riang
penuh dosa. Namanya juga satu keturunan,yang pasti sama antara ciri pemikiran ataupun ciri warna
kulit muka, sama-sama manisnyaa (kan orang solo manis-manis, haha).
Kekeluargaan serta kepekaan sosial dalam budaya lokal
sekitar keluarga adalah penyemangat untuk terjun langsung dalam sikap
perubahan. Membentuk sebuah komunitas adalah wadah yang tepat dalam menyalurkan
aspirasi yang menggerutui. Secukupnya ego termasukan untuk mensegerakan ada dan
nyata sebuah wadah (komunitas) yang nantinya akan dijadikan tempat bernaung
disetiap keluh kesah anggota.
Aku cemburu bercampur iba melihat kenyataan kawan dekat
selalu akrab dan mesra berkumpul penuh semangat menyuarakan sebuah wacana,
informasi dan isu-isu aktual didaerah khususnya. Maklumlah, jiwa manusiawiku
masih normal, tak mungkin aku memungkiri atau memperkosai segal keinginan rasa
yangtelah lama berdiri. Ingin kutuangkan egoisny rasa pada mereka kawan
selingkaran keraton agar mereka mengikuti, tapi itu tak manusiawi tak mungkin
terjadi. Aku terlalu egois bila menuruti keinginan buta tanpa kesepakatan
bersama.
Kuharap, ini adalah awal dari segala rasa yang tak kutemui
jawabnya. Mereka (mhs. solo) kuharap mengerti, memahami, meresapi dan mau
berkreasi dengan segala inovasi. Setidaknya mereka leebih akrab dan mesra
dengan sesama keturunan adat keratonnya. (santoza).