Latar Belakang Mencintai Bunga Mahasiswa

Apa kabar kau disana, lama tak bergemulai dengan lembut senyum dan lirik bola mata penuh tanya. Bayang anganmu membagi indah rasa suka yang dulu ada sampai sekarang. Ketika semangat asmara yang bergelora dengan segala lara menuntun kata cinta tercipta. Aku trenyuh dengan suasana malam memancarkan kenangan yang kutata dalam kalimat beraroma sastra lama. Kuatnya kenangan bermandikan angan-angan hampa, dihiasi bisikan-bisikan romansa bertabur dalam jiwa yang masih terpana oleh seorang Maria.
Sampai detik ini, kurasa kau tetap yang utama. Meski sering kali aku kecewa disetiap langkah yang salah dalam improvisasi mendekatkan dua hati untuk saling berempati dizona percintaan muda-mudi. Tahap ini aku berhenti sejenak untuk sekedar mengevaluasi segala curahan hati bersama kawan yang pandai mendapatkan hati yang masih sendiri. Segala macam cara dijabarkanya dalam alunan kata indah menjadi sebuah puisi. 
Entah apa yang terjadi, aku seakan kepincut dengan wanita yang punya daya tarik tersendiri. Yang pertama aku suka lirikan mata yang mempunyai arti tersndiri. Yang kedua gaya hidup sederhana yang jarang ada di wanita era tekhnologisasi. Yang ketiga karakter yang sulit terbaca saat kuhimpun strategi mendekatinya. Yang terakhir karena dia bunga mahasiswa alias primadona, banyak sainganya dan aku suka tantangan untuk mendapatkanya.(tak lupa dibalut dengan rasa cinta penuh kasih bila hatiku diterima untuk disandingkan dengan hatinya).
Semuanya telah meracuni kesegala Neutron dan Proton yang ada ditubuhku hingga konslet yang membuat pikiran beku beberapa waktu. Kuharap “jangan ada dusta diantara kita” untuk saling mngungkapkan isi hati. Dan hanyalah “kepastian yang kutunggu” dari semua pertanyaan cinta yang tersusun ruwet kalimat sastra lama. Dan akhirnya aku berharap kau dan aku “bersatulah pemuda-pemudi” untuk melanjutkan cita-cita bangsa Indonesia. Endingnya “ i’m still loving you” saklawase. (santoza)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »